Pelatihan Ecobrick Berbasis Kelompok Rumah Tangga di RW-05 Kelurahan Cipaganti, Kec.Coblong Kota Bandung

 

​Pelatihan EcoBrick (Eco = disingkat dari ilmu Ecology; brick = bata) di RW-05 Kel.Cipaganti, Kec.Coblong, di Jl.Cihampelas Kota Bandung adalah suatu kegiatan untuk memberikan pemahaman kepada warga tentang sampah, khususnya sampah plastik yang tidak bisa dijual ke pihak Bank Sampah Bersinar. Sampah-sampah plastik tersebut berpotensi menjadi materi dasar untuk konstruksi bangku sederhana, yang tentunya memiliki nilai ekonomi dan dapat menambah penghasilan rumah tangga.

Latar belakang diadakan pelatihan ini adalah:

  1. Keprihatinan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Telkom terhadap masalah lingkungan yang merupakan masalah yang tidak pernah usai.
  2. Mencermati fakta bahwa sampah yang dihasilkan oleh 2,4 juta penduduk Kota Bandung dari berbagai aktivitas di lingkungan rumah tangga, institusi, kantor, rumah sakit, sekolah maupun kampus, adalah berkisar antara 1.500 ~ 1.600 ton sampah per hari. Lalu adanya perkiraan 150 ~ 250 ton sampah berceceran di sungai dan sudut kota. Keberadaan sampah tersebut mencemari sedikitnya 10 sungai di Kota Bandung.
  3. Memahami bahwa lingkungan RW-05 Kel.Cipaganti, Kec.Coblong, di Jl.Cihampelas Kota Bandung, yang berlokasi di bantaran sungai Cikapundung belum pernah dilaksanakan pelatihan tentang EcoBrick.

Berangkat dari pemikiran dan kondisi faktual inilah kemudian muncul inisiatif kolaborasi antara Forum Gemricik, Tim PkM FEB Tel-U, Bank Sampah Bersinar (BSB), Lembada (Lembaga Bantuan Desain); untuk bergerak, bertindak dan terpanggil melakukan kegiatan PkM dalam wujud pelatihan EcoBrick.

Pelatihan dilaksanakan pada tanggal hari Kamis tanggal 11 Oktober 2018. Tempat penyelenggaraan pelatihan adalah di Masjid Mungsolkanas RW-05 Kel.Cipaganti, Kec.Coblong, di Jl.Cihampelas Kota Bandung.

Pelatihan ini terselenggara karena adanya kerjasama dari beberapa pihak, yaitu:

  1. Penyelenggara acara pelatihan EcoBrick ini adalah: 1) Tim PkM FEB Tel-U; 2) Warga RW-05; 3) Forum Gerakan Masyarakat Cinta Cikapundung (Gemricik); 4) Bank Sampah Bersinar (BSB); 5) Lembada (Lembaga Bantuan Desain) serta mendapat dukungan dari Komandan Sektor-22 Citarum Harum dan Yayasan Paragita.
  2. Peserta pelatihan EcoBrick adalah para pengurus bank sampah kelompok Cihampelas Mandiri, yang mewakili 8 RT.

Susunan acara pelatihan adalah sebagai berikut:

  1. Arahan dari Komandan Sektor-22 Citarum Harum dan Ketua RW-05.
  2. Paparan singkat dari Tim PkM FEB Tel-U tentang rencana strategis program PkM di lingkungan RW-05.
  3. Paparan singkat dari pihak Yayasan Paragita tentang EcoBrick.
  4. Praktik membuat EcoBrick dari masing-masing peserta pelatihan.

Dalam kurun waktu tiga (3) bulan ke depan, setiap peserta telah mampu menghasilkan konstruksi bangku sederhana yang akan dijual pada saat pelaksanaaan bazaar di tahun 2019.

Dokumentasi foto-foto pelatihan adalah sebagai berikut:

  

 

Pelatihan Peningkatan Kreatifitas Berbasis Ecopreneurship bagi Pedagang Pasar Tradisional Di Lembang

Oleh Mediany Kriseka Putri, MBA

Pasar Panorama Lembang mengalami kebakaran pada 2015 lalu. Setahun berikutnya,
revitalisasi pasar dilakukan Pemkab Bandung Barat melalui kerja sama dengan PT.
Binabangun Persada. Menurunnya Jumlah pasar tradisional saat ini memiliki beberapa kaitan
dengan beberapa hal seperti tata ruang pasar dan jam operasional pasar yang terbatas, cara
pengemasan produk yang kurang rapih, serta suasana pasar yang kumuh dan kotor akibat
permasalahan sampah.

Pasar tradisional di Lembang adalah salah satu pasar yang ramai dikunjungi masyarakat dan
menjadi salah satu penggerak ekonomi di Bandung. Namun, keberadaan pasar modern yang
bersih juga memunculkan persaingan yang pesat di wilayah ini. Untuk itu, perlu adanya
peningkatan kreatifitas untuk menghadapi persaingan tersebut dan permasalahan sampah.

Salah satu alternatif dalam meningkatkan kreatifitas bagi pedagang Pasar Panorama Lembang
adalah dengan melakukan pelatihan yang berhubungan dengan kreatifitas dalam pengolahan
dan pemilahan sampah. Selain itu karena masih kurangnya pengetahuan pedagang tentang
konsep pasar bersih sehat diperlukan pelatihan yang dapat membantu pedagang untuk dapat
mengorganisir dan memilah sampah di lapak sekitar.

Oleh karena itulah, Tim Dosen dan mahasiswa di bidang ilmu Entrepreneurship terlibat dalam
program Pelatihan Peningkatan Kreatifitas bagi Pedagang Pasar Tradisional di Lembang, agar
dapat membantu meningkatkan kreatifitas dalam pemilahan sampah. Dimana dalam
pelaksanaannya dibagi menjadi dua materi utama berupa:

1. Memberikan pemahaman dalam pengelolaan sampah.
2. Memberikan pengetahuan dalam pemilahan sampah

Diharapkan setelah mengikuti pelatihan yang dilakukan pedagang merasakan manfaat sebagai
berikut:
1. Memiliki pemahaman terhadap pemasaran online.
2. Memiliki kemampuan dalam mengembangkan produk yang memiliki nilai jual yang lebih
tinggi.

Selama melakukan pelatihan, para pedagang memiliki antusias yang sangat baik dalam
menanggapi materi yang diberikan. Tidak hanya pedagang bahkan pengelola pasar pun juga
turut hadir. Para peserta juga aktif bertanya selama kegiatan berjalan, yang menunjukkan
keingintahuan yang besar terhadap materi yang diberikan. Adapun jumlah Masyarakat sasar
yang dapat hadir sebanyak 50 orang.

Evaluasi pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada
masyarakat sasar untuk mengetahui sejauh mana program dan metode yang kami laksanakan
dapat diterima oleh masyarakat sasar. Dari 50 kuesioner yang disebarkan, dapat dilihat bahwa
76 persen dari keseluruhan butir penilaian menjawab setuju, 24 persen menjawab sangat setuju
dan tidak ada yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju. Dapat disimpulkan bahwa
total jumlah setuju dan sangat setuju 100 persen berada pada kategori sangat baik. Artinya
masyarakat menerima denagn baik pelatihan yang diberikan dan mengharapkan adanya
kegiatan seperti ini dimasa yang akan datang.

Rencana kegiatan lebih lanjut, jika memungkinkan dari segi waktu dan kesempatan kami akan
melanjutkan program ini, dengan terlebih dahulu melakukan beberapa survei dan observasi
untuk melihat potensi pengembangan lebih lanjut.