Diskusi Smart Energi Bersama Pakar, Muhamad Reza

Nara Sumber: Muhamad Reza

Profil Singkat Nara Sumber:

Muhamad Reza adalah  seorang peneliti utama di bidang energi di Swedia. Saat ini ia menjadi project manager di pusat riset bidang power system di ABB, Swedia.

ABB adalah perusahaan raksasa dalam bidang electrical engineering. Perusahaan itu merupakan satu dari tiga terbesar di dunia, selain General Electric dan Alstom/Siemens. Tidak banyak orang Indonesia yang bekerja di R&D department perusahaan raksasa dunia. Keberadaannya termasuk elemen penting yang akan membangun komunikasi dunia akademisi dan juga dunia industri.

Selain itu, lulusan S-1 ITB terbaik (penerima Ganesha Prize) dan S-2, S-3 TU Delft ini bergabung dalam kelompok kerja IEEE dalam bidang desain jaringan pembangkit listrik tenaga angin. Sebagai peneliti, ia menjebatani ilmu dengan aplikasinya. Ia bertugas menjalin kerja sama dengan universitas di Belanda, Belgia, Norwegia, Italia, Amerika. (Sumber: Media Indonesia)

Waktu Wawancara: 7 Desember 2016

Pewawancara: Fajar Sidik Adi Prabowo

Media: Skype


 

Tanya: Apa peran terwujudnya Smart Energy bagi tercapainya visi Bandung Smart City yang dicanangkan oleh Ridwan Kamil?

Jawab:

Smart grid ada dua definisi, smart energy dalam artian energy yang handal, energy yang handal terkait dengan semua aspek smart city. Seperti smart surveillance, smart government, smart payment itu tidak akan berjalan kalau listrik mati. Handal kearah kontinuitas. Dalam arti kata tidak mati, tidak kurang. Tidak ada pemadaman, merupakan prioritas yang pertama jika Bandung ingin menjadi smart city. Smart energy dalam arti kata energi listrik yang reliable bisa mendukung semua infrastruktur smart city merupakan prioritas utama, atau satu dari sedikit prioritas awal.


Tanya: Berdasarkan wawancara atas perwakilan pemkot Bandung, Smart Government adalah dimensi Smart City yang paling diprioritaskan dan dijadikan sebagai fondasi bagi implementasi dimensi Smart City yang lain. Menurut Anda, apakah menurut prioritas ini sudah tepat? Dan apakah keterkaitan terwujudnya Smart Government terhadap terwujudnya Smart Energy di Kota Bandung?

Jawab:

Terdapat 2 dimensi, yang paling penting adalah infrastruktur smart city.

Infrastruktur smart city ada 2 yang teknis: yang pertama Smart energy bahwa listrik supply nya cukup dan handal. Yang kedua Infrastruktur dari jaringan telekomunikasi atau jaringan digital yang akan digunakan untuk menghubungkan semua smart. Jika dikatakan smart government menjadi hal yang utama hal tersebut dilihat berdasarkan prioritas dari sisi mana yang paling terasa. Berbicara mengenai dua hal yang berbeda, itu aplikasinya. Aplikasi akan terbentuk setelah smart city terbentuk, kemudian hal tersebut akan digunakan sebagai kontrol atau efisiensi. Kalau untuk kontrol/efisiensi kependudukan atau tata kota bisa saja Smart government itu penting. Karena membuat regulasi jadi lebih mudah. Baru akan mendukung yang lainnya seperti payment, energy efisiensi, dan smart grid atau security dari sisi surveillance atau transportasi. Smart government bukan smart city nya, sedangkan smart city yang harusnya jalan yaitu energy nya cukup, infrastruktur IT nya cukup, baru edukasi masyarakat dan pejabat, kemudian bagaimana infrastruktur yang ada bisa dipakai untuk memperbaiki government, sedangkan untuk prioritas jika hambatannya resource dari pemerintah silahkan memilih smart government terlebih dahulu, tetapi jika infrastruktur nya ada, finance, education, government, health system, dan transportation sama pentingnya.


Tanya:  Sejauh mana kewenangan dari pemerintah daerah khususnya pemerintah kota dalam menjamin kontinuitas pasokan energy di kota nya?

Jawab: Kewenangan pemerintah daerah, khususnya pemerintah kota dalam menjamin kontinuitas pasokan energy memiliki kekuatan untuk menekan penyedia atau meminta penyedia menyediakan listrik yang cukup walaupun hal tersebut sebenarnya merupakan tanggung jawab PLN jika di Indonesia. Jika terdapat keterbatasan dan membutuhkan support dari pemerintah pusat itu lain soal, tapi pemda bisa memberikan kode requirement bahwa ini yang saya perlukan, lebih ideal jika terdapat kesulitan dari penyelenggara listrik (PLN), pemda bisa membantu secara signifikan, missal menyediakan Right of Way, yaitu hak-hak dimana jaringan-jaringan penyedia listrik bisa dibuat, pemda dapat berkontribusi. Pemda tidak memiliki kemampuan regulasi untuk mengatur kontinuitas energy disebuah kota, hal tersebut masih jauh. Sebetulnya pemda merupakan bagian dari customer. Pemerintah kota bisa membuat demand dalam bentuk requirement.


Tanya: Seberapa efektif atau efisien pengelolaan energy di Kota Bandung?

Jawab:

  1. Kehandalan supply yang mendukung smart city.
  2. Efisiensi, efisiensi ada dua arahan:
    1. Efisiensi segi energy yang digunakan optimal,
    2. Carbon foot print nya minimal.

Energy yang minimal tidak ada pada 10 item smart city bandung, tetapi berbicara mengenai penghematan energy, seperti contoh system smart city bandung pada penerangan lampu jalan yang dapat dikontrol menyala pada saat dibutuhkan saja. Bisa dikontrol atau menghimbau atau menstimulasi pada gedung-gedung yang ada di kota bandung untuk menghemat energy.


Tanya: Pola konsumsi masyarakat bagaimana masyarakat mengkonsumsi listrik, bagaimana pemerintah mengkonsumsi listrik, maka hal tersebut menjadi control dari pemerintah kota. Masalah efisiensi kelihatannya pengaruh pemerintah terhadap efisiensi tingkat penggunaan energy jauh lebih tinggi dari tingkat efektifitas penggunaan energy dari sisi kontinuitas pasokan.

Jawab:

Untuk pasokan pemerintah memiliki peluang untuk memberikan demand yang tepat kepada penyedia listrik, dan bantuan jika diperlukan untuk mempermudah birokrasinya. Dari pengguna listrik pemerintah bisa lebih aktif melakukan penghematan, dapat membuat skema dimana penggunaan energy dapat dihemat. Pemerintah daerah mempunyai wewenang membangun pasokan listrik yang memanfaatkan asset daerah, seperti misalnya pembangkit listrik tenaga sampah atau pembangkit listrik tenaga matahari yang dipasang di atap-atap bangunan yang luas dengan insentif-insentif tertentu kepada pemilik bangunan atau kepada pemerintah sendiri, jadi berbicara mengenai efisiensi yang pertama pemerintah kota dapat mengontrol sehingga penggunaan listrik di Kota Bandung bisa dihemat dengan cara smart, misalnya lampu di jalanan, beban yang ada pada control pemerintah kota dapat dikontrol dengan efisien dan dioptimalkan dengan jaringan smart city tersebut. Kedua jika carbon foot print nya diperkecil pemerintah dapat memberikan smart city dalam arti kata smart building karena tidak terlihat bahwa ada smart building, jadi bangunan-bangunan itu diberi insentif jika memasang solar panel di atap.


Tanya: Perbandingan Rasio berapa persen dikonsumsi oleh pemerintah berapa persen dikonsumsi oleh masyarakat pada umumnya?

Jawab:

Banyak hal-hal social ditanggung PLN atau tarif subsidinya ditanggung PLN, seperti penerangan jalan raya. Peran pemerintah membantu bahwa infrastruktur smart city itu dapat digunakan untuk penghematan, jadi overall secara total dapat terjadi penghematan di kota bandung, jika terdapat meteran di kota bandung perkara subsidinya itu pihak siapa itu nomor dua, yang utama adalah bahwa smart city bandung adalah kota yang hemat.

Keterkaitan smart energy dan smart environment seperti di kota bandung pemerintah sudah menerapkan bio digester, dan menghasilkan sebuah gas tertentu yang dapat digunakan sebagai bagian dari energy alternative terbarukan. Pertama adalah factor yang memungkinkan adanya smart city karena mensupply semua peralatan di smart city, yang kedua smart energy sebagai sector di dalam smart city.


Tanya: Salah satu aplikasi smart energy dimana penggunaan daya listrik atau energy dapat disesuaikan dengan pola hidup/kebiasaan dari satu orang atau masyarakat atau kelompok orang, seolah-olah system dapat belajar menggunakan data yang sangat besar atau big data dan di mining. Jadi bisa dipetakan misalnya perilaku masyarakat, kebutuhan masyarakatnya, dan dalam bentuk seperti apa? 

Jawab: 

Catatan seperti itu sudah ada dan dilakukan oleh PLN. Tetapi dititik-titik di gardu listrik, monitoring seperti itu belum sedetail itu di rumah perumah, tapi di level area-area sudah. Kalau mau ditingkatan yang belum smart city itu yang bisa dilakukan adalah apakah data per area itu atau bahkan rumah-perumah itu bisa terhubung, atau bisa dalam bentuk langsung dari m2m dari meteran warga ke apps di smartphone, karena tahap smart city yang masih kurang pertama data selama ini masih levelnya bulky, masih agregat data, personalisasi dari data itu langkah pertama tapi langkah yang paling penting untuk smart city adalah bagaimana orang dapat mengambil manfaat dari dia tahu data pengukuran tersebut. Untuk pemakaian di rumah tangga itu belum terlalu signifikan, karena orang masih belum terlalu bisa fleksibel, tetapi jika melihat ke depan yang bisa menarik itu jika nanti misalkan untuk smart city yang cukup ambisius terdapat komunitas signifikan dari sepeda listrik di Bandung. Disitu mereka dapat memanfaatkan data, untuk membuat mereka menghitung dimana mereka untuk mencharging sepeda. Hal tersebut merupakan langkah yang masih panjang, tetapi disitu bisa dibilang kombinasi database yang banyak akan signifikan karena ketika punya sepeda yang menggunakan listrik dan terhubung ke apps akan tahu konsumsi listrik sepeda itu atau transportasi, kita tahu kapan harus mengisi dan dimana. Disitu baru kita mempunya pilihan seperti kita akan melakukan isi pulsa untuk telepon.

System energy yang bisa secara otomatis dapat beradaptasi dengan gaya hidup manusia itu masih jauh, tetapi manusia mulai bisa beradaptasi dengan adanya pasokan informasi untuk melihat konsumsi listrik di keseharian.

….

to be continue…..


Selengkapnya bisa menghubungi Fajar Sidik Adi Prabowo di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Telkom

Diskusi Smart Environment Bersama Pakar, Sobirin Supardiyono

Topik: Smart City, Smart Environment

Tanggal wawancara: Rabu, 30 November 2016

Tempat: PUSAIR, Jl. Juanda 193, Bdg, seberang utara Pasar Simpang Dago, di samping Jl Kidang Pananjung/
Ruang: Gedung Utama, Lantai 4

Nara Sumber : Supardiyono Sobirin, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda/ DPKLTS

Pewawancara: Fajar sIdik Adi Prabowo

Hasil diskusi : Validsi Wawancara M2M Bandung- Smart Environment

Tanya: Apa peran terwujudnya konsep Smart Environment bagi tercapainya visi Bandung Smart City yang dicanangkan oleh Ridwan Kamil?

Tujuan pertanyaan:

  • Untuk mengetahui keterkaitan terwujudnya Smart Environment dengan dimensi Smart City yang lain
  • Untuk menilai seberapa besar dampak/ peran terwujudnya Smart Environment bagi terwujudnya visi Smart City secara keseluruhan
  • Untuk membantu informan memfokuskan perhatiannya pada pokok bahasan wawancara

Jawab :  Secara aspek, konsep smart city diidentifikasi pada enam sumbu dimensi yaitu: ekonomi pintar (smart economy), mobilitas pintar (smart mobility), lingkungan pintar (smart environment), masyarakat pintar (smart people), kehidupan cerdas (smart living) dan pemerintahan pintar (smart governance).

Ada pendapat bahwa untuk mencapai predikat sebagai smart city, tidak semua dimensi wajib diterapkan, dikatakan sebuah kota dapat memfokuskan satu dimensi saja dalam penerapan konsep smart city. Namun menurut saya, hal itu tidak benar karena masing-masing aspek saling terkait satu dengan lainnya, saling mengungkit, tidak dapat dipisahkan, tidak dapat ditinggalkan. Berdasar Analytic Hierarchy Process (AHP), yang saya coba buat, maka urutannya adalah sbb:

Urutan prioritasnya: smart governance 48,8% dng tuntutan clean and capable, smart people 34,9%, smart living 6,9%, smart economy 6,4%, smart environment 2,0%, smart mobility 1,0%

Dalam pembangunan kota yang berkelanjutan secara ekologi, harus dipenuhi tiga dimensi besar yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, yaitu: Kesejahteraan warga, Kemakmuran wilayah, Kelestarian lingkungan.

Berdasar butir (1) dan (2) bahwa smart environment adalah bagian dari smart city, karena pada dasarnya pembangunan sebuah kota harus berbasis pada “building with nature”. Tanpa lingkungan yang lestari dan smart environment, akan sulit tercapai kemakmuran wilayah dan kesejahteraan warga, dan aspek smarts yang lain.

———————————————

Tanya: Mengapa Anda berpendapat demikian? 

Filosofi pembangunan berkelanjutan termasuk pembangunan kota adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

Tanya: Apakah yang menjadi dasar dari pendapat Anda?

Dalam UU No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, disebutkan dalam mukadimah menimbang, sbb:

  1. bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak  asasi  setiap  warga  negara Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 28H Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
  2. bahwa pembangunan      ekonomi      nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diselenggarakan  berdasarkan  prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

——————————————-

Tanya: Berdasarkan wawancara atas perwakilan pemkot Bandung, Smart Government adalah dimensi Smart City yang paling diprioritaskan dan dijadikan sebagai fondasi bagi implementasi dimensi Smart City yang lain. Menurut anda, apakah prioritas ini sudah tepat? Dan apakah keterkaitan terwujudnya Smart Government terhadap terwujudnya Smart Environment di Kota Bandung?

Tujuan pertanyaan:

  • Memiliki tujuan yang sama dengan poin 1.1 di atas
  • Dapat berperan sebagai pertanyaan alternatif bagi pertanyaan poin 1.1 di atas
  • Untuk membantu informan memfokuskan perhatiannya pada pokok bahasan wawancara

Jawab: 

  • Ya, berdasar AHP sudah tepat
  • Smart Governance akan mengungkit aspek smart environment.

—————————————-

Tanya: Sejauh mana partisipasi warga Bandung dapat mempengaruhi keberhasilan dari program Smart Environment di Kota Bandung?

Tujuan Pertanyaan:

  • Memeriksa sejauh mana studi dengan perspektif warga kota berperan dalam kesuksesan program Smart Environment

Jawab:  Sampai saat ini dampak partisipasi warga Bandung masih sangat rendah dalam hal menuju sukses smart environment, sehingga aspek ini masih raport merah

——————————————

Tanya: Mengapa demikian? Apa yang menjadi dasar dari pemikiran Anda?

Jawab: 

Semangat partisipasi masyarakat dapat dikatakan telah cukup tinggi, namun masih sporadis, tidak terarah, penyuluh dari pemerintah kota sangat minim, anggarannya pun tidak optimum. Sosialisasi dan pemberdayaan sekedar menggugurkan kewajiban program, hit and run. Proyek selesai, maka tugas dianggap selesai, tidak peduli keberlajutan yang harus dilakukan masyarakat.

Dasar fakta di lapangan antara lain program sejuta biopori yang tidak berlanjut, program tempat sampah di pinggir jalan yang bahkan tempat sampahnya hancur dan hilang, kantong plastik berbayar yang hanya selintas tidak berlanjut, urban farming yang tidak berlanjut, sampah berserakan dan dibuang sembarangan di mana-mana, dll. Perencanaan mungkin matang, pelaksanaan dilakukan, evaluasi dan monitoring tidak dilakukan, sehingga tidak dapat diukur outcome-nya.


Tanya: Berdasarkan riset awal, banjir menjadi salah satu perhatian warga Bandung. Seberapa besar potensi manfaat program Smart Environment dalam menanggulangi bencana banjir di Kota Bandung?

Tujuan Pertanyaan: Mengukur potensi manfaat program Smart Environment dalam menanggulangi bencana banjir di Kota Bandung

Jawab:  Potensi program smart environment sama sekali belum terlihat dalam menanggulangi banjir Kota Bandung, walaupun data dan informasi telah mudah diakses dari internet.


Tanya: Apa saja kendala dari penanggulangan bencana banjir di Kota Bandung?

Jawab: 

  • Pemerintah kota kurang memahami bahwa konsep penanggulangan banjir Kota Bandung harusnya bedasarkan kepada pembangunan yang disesuaikan dengan alam (building with nature).
  • Drainase Kota Bandung sangat minim, sebagian besar adalah drainase lama warisan jaman kolonial Belanda, yang tidak lagi memenuhi persyaratan hidrologis saat ini.
  • Pemerintah kota tidak mampu menertibkan permukiman yang menempati sempadan sungai dan drainase.
  • Warga sulit diajak untuk ikut berpartisipasi dalam penanggulangan banjir Kota Bandung, misal: bahkan membuang sampah sembarangan, dll

Tanya: Bagaimana program Smart Environment seharusnya dapat mengatasi kendala tersebut? 

Jawab: 

Program smart enivornment untuk dapat mengatasi kendala tsb, antara lain:

  • Potensi tenaga penyuluh lingkungan supaya ditingkatkan jumlah dan kualitasnya untuk sosialisasi dan pemberdayaan agar warga kota sadar lingkungan.
  • Para birokrasi dan aparat di pemerintahan kota (pejabat-pejabat) supaya bisa memberi contoh produktif agar banjir Kota Bandung dapat di atasi, misalnya di kantor-kantor pemerintah dan di rumah para pejabat terdapat sumur resapan, biopori, infrastruktur panen hujan, agar bisa dicontoh oleh umum.
  • Gerakan Mengurangi dan Mengendalikan Banjir Kota Bandung secara kesemestaan berwawasan lingkungan, dengan insentif dan disinsentif. Saat ini teknologinya hanya memindahkan banjir ke tempat lain. Gerakan ini termasuk agar setiap rumah harus memiliki sumur resapan, biopori, dll, dengan insentif yang melaksanakan mendapat sertifikat hijau, dan yang tidak melaksanakan mendapat sanksi berat. Saat ini Kota Bandung telah menyumbang banjir untuk dirinya sendiri, dan ke kawasan di hilirnya.

Tanya: Apakah ada contoh kasus serupa di kota lain? 

Jawab: 

Contoh di Indonesia boleh dikatakan tidak ada, karena gerakan atau langkah yang dilakukan hanya sekilas, tidak berkelanjutan. Kalau di luar negeri banyak, misalnya di Jepang, Australia, Amerika, Jerman, dll negara yang telah menerapkan smart environment, misalnya membangun drainase berwawasan lingkungan, urban lake, yang intinya adalah “give more space for water”, terutama dalam rangka mengantisipasi perubahan iklim.


Tanya: Riset awal juga menunjukkan bahwa masalah pengelolaan sampah masih menjadi salah satu keprihatinan warga Bandung. Apa dan seberapa besar seharusnya potensi manfaat program Smart Environment dalam mengelola sampah di Kota Bandung?

Tujuan Pertanyaan: Mengukur potensi manfaat program Smart Environment dalam mengelola sampah di Kota Bandung

Jawab:  Seharusnya program smart environment dapat mengatasi masalah sampah, namun kenyataan sampah Kota Bandung masih banyak berserakan di sudut-sudut kota, juga memenuhi badan sungai dan drainase.


Tanya: Apa saja kendala dari pengurusan pengelolaan sampah di Kota Bandung? 

Jawab: 

  • Warga masih enggan mengelola sampah rumah tangganya, tidak berminat untuk 3 R (reduce, reuse, recycle), walaupun mereka tahu.
  • Warga menganggap pengelolaan sampah adalah urusan pemerintah, padahal sampah adalah urusan bersama seluruh stakeholders.
  • Warga masih berfikir yang penting sampah “not in my backyard” (NIMBY)
  • Pemerintah dan pejabatnya tidak memberi contoh positif
  • Penyuluh kebersihan tidak ada
  • TPS dan TPA masih merupakan program pembuangan sampah, bukan pengelolaan sampah.
  • Teknologi persampahan masih kuno, hanya memindahkan sampah ke tempat lain
  • dll

Tanya: Bagaimana Smart Environment dapat mengatasi kendala tersebut? 

Jawab: 

  • Seharusnya smart environmet untuk mengatasi kendala sampah ini antara lain: Peraturan tentang sampah Kota sebagai turunan dari peraturan perundangan di atasnya supaya tegas, reward and punishment.
  • Visi, Misi, Program, Anggaran, Skill, reward and punishment tentang sampah kota harus tegas dan fokus menuju Kota Bandung yang “zero waste”.

Tanya:Apakah ada contoh kasus serupa di kota lain? 

Jawab:

Contoh di Indonesia boleh dikatakan tidak ada, karena gerakan atau langkah yang dilakukan hanya sekilas, tidak berkelanjutan. Kalau di luar negeri banyak, misalnya di negara yang telah menerapkan smart environment tentang sampah, dengan membangun budaya mengelola sampah di rumah masing-masing. Kesadaran sampah saya adalah tanggung jawab saya. Bukan people should, tetapi people should clean.


Selengkapnya di Validsi Wawancara M2M Bandung- Smart Environment

Rakor KK SEE Sosialisasi Roadmap Penelitian

Kelompok Keahlian Strategy, Entrepreneurship

& Economic

Universitas Telkom

RISALAH RAPAT  

 

Tempat:

Ruang Rapat Dosen Lt.2

No.03/SEE/FEB.12/2016
PENGUNDANG TELEPON : EMAIL
Astri Ghina (Ketua KK SEE) 082233887886 astri.ghina24@gmail.com
HARI/TANGGAL :

Jum’at, 9 Desember 2016

MULAI : 13.00 SELESAI : 15.00
PESERTA YANG DIUNDANG: AGENDA
Seluruh Anggota KK SEE

 

Sosialisasi Roadmap KK SEE (Update)
HASIL RAPAT:
 

1.       Ditemukan ketidakkonsistenan dalam topik skripsi mahasiswa dengan kompetensi dosen

2.       Dosen terlalu luas ruang lingkup penelitiannya sehingga kedalaman penelitian kurang tereksplorasi (sulit menjadi expert di bidangnya)

3.       Perlu adanya panduan untuk membuat roadmap individu

FOLLOW UP ACTION TARGET PENYELESAIAN PIC
A.       Menyelenggarakan workshop pembuatan roadmap penelitian dan pengabdian (Individu) 16 Desember 2016 Ketua KK
B.      Mengirimkan file roadmap penelitian dan pengabdian masing-masing member Sub KK ke Ketua Sub KK 25 Desember 2016 Ketua Sub KK
C.       Mengirimkan file roadmap seluruh member sub KK ke Ketua KK sebagai bahan presentasi agenda penelitian mahasiswa di mata kuliah metode penelitian 28 Desember 2016 Ketua KK
PIMPINAN RAPAT

Astri Ghina

 

NOTULIS

Astri Ghina                

 

RISALAH DIKIRIM TGL: 12 Desember 2016

LAMPIRAN:  Foto Kegiatan dan Absensi

 

DIHADIRI OLEH

1.       Astri Ghina
2.       Fajar Prabowo
3.       H. Romadlon
4.       Anthon R
5.       Grisna A
6.       Elvira Azis
7.       Arif Partono
8.       Tridjatmiko
9.       Fetty Poerwita Sary
10.    Dedi S

Teaching:

Developing entrepreneurial graduates through high quality lecturer, learning materials, and academic environment.

Research:

1.Developing knowledge of strategy, entrepreneurship, economy in global ICT business and government organizations for the betterment of business, government, and society.

2.Using an interdisciplinary approach to research is essential to solve complex problems in contributing to the transformation of global ICT business practices and public policy.

Community Service:

Develop and disseminate knowledge of  strategy, entrepreneurship, economy by creating, capturing, researching, studying; followed by, delivering, sharing and applying  strategy, entrepreneurship, economy content for theoretical, practical, and sustainable development context.

 

Rapat Koordinasi SEE

Expert Round Table: Sub KK EPS, Roadmap Industri Indonesia

Tanggal : Jumat, 9 Desember 2016
Waktu : 09.00 sd 11.00
Tempat : Ruang Rapat Dekan FEB
Jumlah Peserta : 20 (Dua Puluh)

Nara sumber: Drs. Ali Fahmi Kamil

 
No/ Bulan Agenda Baru Pembahasan Rencana Perbaikan Penanggung Jawab Target Selesai Status
1.

 

 

 

 

 

 

 

Paparan Kemenperin dengan Narasumber Drs Ali Fahmi Kamil.

 

 

 

“Kebijakan Pembangunan Industri Serta Strategi Inovasi dan Litbang Dalam Meningkatkan Daya Saing Industri Nasional”

 

 

 

1.    PP No 41 Tahun 2015 terkait sumberdaya industri yaitu SDM dan Teknologi didalamnya terdapat kebijakant erhadap Perguruan Tinggi.

 

 

Kemenperin

 

9 Des 2016 Close

 

 

 

 

 

 

2. Diskusi dan Tanya Jawab 1.     Bagaimana proteksi terhadap bisnis infant di Indonesia?

 

2.     Dalam bangun industri nasional, Industri Pariwisata berada di mana?

3.     Kerjasama PT (Tel-U) dengan oemerintah terutama Kemenperin

1.       Menanamkan nasionalisme dengan mencintai dan menggunakan produk dalam negeri.

2.       Industri Pariwisata termasuk dalam kelompok industri tersier yang didalamnya terdapat industri kreatif.

3.       Apakah Tel-U sanggup memetakan industri ICT berdasarkan TRL dan MRL serta melakukan prediksi kondisi industri di masa depan?

Kemenperin

 

 

 

Kemenperin

 

 

 

FEB-Tel U

9 Des 2016

 

 

 

9 Des 2016

 

 

 

TW 1 2017

Close

 

 

 

Close

 

 

 

Open

 

Bahan Paparan:

Kebijakan Pembangunan Industri Serta Strategi Inovasi dan Litbang Dalam Meningkatkan Daya Saing Industri Nasional

Potret Daya Saing Perindustrian Nasional

1 2 3

Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015-2035

1 2 3 4 5 6 71 2

PROGRAM PRIORITAS PEMERINTAH TAHUN 2017

1 2 3 4 5 6 7 8

SEKTOR INDUSTRI YANG DIFOKUSKAN PADA TAHUN 2017

1

KONSEP INOVASI DAN KREATIVITAS DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI

1 2 3 4

KONDISI INOVASI DAN TEKNOLOGI INDONESIA

1 2 3 4

KOLABORASI DAN SINERGI DALAM MENGEMBANGKAN STRATEGI INOVASI INDUSTRI

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Selengkapnya di